Anakku Seorang Pedagang Susu




Aktivitas pagi ini tidak berjalan dengan baik, karena selain kami semua telat bangun, si nomor dua sedikit ngambek dan mengamuk pagi tadi. Anak ini memang spesial karena dalam menghadapinya kami memerlukan strategi khusus yang berbeda dengan abang dan adiknya, jika kita tegas maka dia akan melawan sebaliknya jika tidak tegas maka dia akan mencandai dan mempermainkan kita.

Kadang ketika tubuh ini sudah datang lelahnya, sempat juga lepas kontrol saya dalam menghadapi kalakuan si ganteng ini. Memang selalu ada saja yang dibuatnya, dari mengganggu abang atau adiknya sampai menaiki dan loncat dari atas lemari bufet…..weleh…weleh…

Namun selain ledakan-ledakan kiri yang mengagetkan ternyata si ganteng ini juga memiliki ledakan-ledakan kanan yang terkadang kami sebagai orang tuanya merasa terenyuh dan kagum dengannya. Contoh teranyar adalah ketika kami sepakat untuk melatih anak-anak mengasah keberanian dan bakat wirausahanya dengan berjualan di sekolahnya masing-masing, jadilah hari itu masing-masing (termasuk Saya dalam rangka -ceritanya- untuk memberi contoh) membawa barang dagangannya untuk ditawarkan kepada teman-temannya disekolah.

Berbeda dengan abangnya yang langsung membawa dagangan dimaksud, si ganteng ini menolak untuk membawanya dengan alasan akan ditawarkan terlebih dahulu kepada temannya, setelah ada yang mau baru besok akan dia bawa barang dagangannya kesekolah (kalo dalam bahasa manajemennya kali si ganteng ini mencoba mencari dan menciptakan pasar dulu sebelum melempar barang dagangannya ke pasar…hebat bukan…hehehe).

Akhirnya ketika malam hari kita bertiga (saya, abangnya dan si ganteng) bertemu di kamar, masing-masing kita melaporkan hasil penjualan masing-masing dengan didampingi istri saya sebagai fasilitator.

Pertama kali saya melaporkan hasil yang saya dapat:

“mayoritas temen-temen gak ada terlalu merespon baik tawaran ayah, hanya satu dua yang menanggapi”…. kilahku menutupi kekuranganku dalam masalah ini dihadapan nakanak…heheh

“wah…. ayah mah payah…..” serempak kedua anak dan istriku berkoor ria….

Giliran kedua si abang:

“temen-temen gak ada yang mau yah…..” katanya

“sudah ditawari belum ke temen-temen??” tanyaku

“belum…. abis abang malu sih…” jawabnya dengan senyum tipis yang dihiasi lesung pipitnya….

##GUBRAKKK…….

Giliran terakhir adalah si ganteng ini:

Kami semua menunggu laporan si ganteng ini yang cenderung memilih caranya sendiri yang entah muncul darimana idenya itu…
“aku dah ada yang beli dong….” si ganteng membuka… 

“bu guru Jannatin beli 2 terus Fardhan beli 1…..” pamernya…
besok bikinin susunya yak…. biara nanti dikasih sama bu Jannatin sama Fardhan” tambahnya…

Dan kami semuapun tertegun dengan hasil yang dicapai si ganteng ini, aku dan istri sumringah mendengar laporan si ganteng yang tidak disangka-sangka ini

Ah…. anakku satu itu memang lincah, kreatif dan membanggakan, maafkan ayah jika terkadang suka lupa ya nak……


----------------------------

Salam Semangat Sukses…


#Ilustrasi: internet

Seandainya Disetiap Simpangan Jalan Ada Pak Pulisi



Senin pagi ini terasa nikmat sekali berkendara motor dari rumah menuju kantor, setelah berkesempatan mengantarkan salah satu anak Saya kesekolahnya. Biasanya akan ada saja yang menghalangi laju motor Saya, terutama disetiap simpangan jalan yang Saya lewati, biasanya disetiap pertemuan jalan itu saya mendapati kendaraan roda dua Saya bersama ratusan kendaraan roda dua lainnya akan terjebak dan saling berebut jalan yang terasa kian hari semakin sempit untuk dilewati.

Setelah tak perhatikan lebih seksama ternyata memang ada yang lain suasana jalan pagi itu, terlihat disetiap sudut persimpangan jalan terdapat masing-masing seorang bertopi, berkacamata hitam dan mengenakan pakaian pelapis berwarna hijau muda melambai-lambaikan tangannya mengatur lalu lintas kendaraan. Dilain pihak, tidak terlihat lagi seorang bertopi dimana tangan kirinya memegang segepok uang dan tangan lainnya melambai-lambai mengatur lalu lintas kendaraan. Ya, pagi itu terlihat lebih banyak Pak Polisi dan tidak ada terlihat lagi Pak Ogah.

Dengan tingkat perbandingan, 1 : 2000 (data tahun 2003), antara jumlah Pak Pulisi pengatur lalu lintas dan jumlah pengguna kendaraan bermotor dijalan raya, pasti tidak akan mungkin ada setiap petugas polisi disetiap persimpangan jalan, selain karena memang tidak ada 'uangnya' secara angka personil hal itu memang tidak mungkin terjadi.

Lain halnya dengan Pak Ogah, karena selain menghasilkan uang peluang ini dimanfaatkan oleh mereka bak lowongan kerja. "daripade nganggur mending gue jadi pulisi tembak dah....." mungkin begitu kira-kira tag line para Pak Ogah ini. Akhirnya semakin tumbuh suburlah peluang kerja baru yang tidak perlu memerlukan ijazah tinggi namun dapat menghasilkan keuntungan ini, paling tidak minimal Rp5000 s.d. Rp10.000 perhari bisa masuk kantong. Dan lebih enaknya lagi peluang kerja ini hanya memerlukan waktu 1 s.d. 2 jam setiap pagi dan sore, jadi bisa dibilang ini kerja-kerja sambilanlah bagi mereka.

Ah.....
Seandainya hari-hari kerja Saya seperti pagi hari ini.......